Politik Internasional

Polemik Perubahan Kebijakan Amerika Serikat dalam Kesepakatan The Joint Comprehensvie Plan of Action (JCPOA) Nuklir Iran

Kategori: World Politics
Ditulis oleh Noviyanti Dilihat: 1673

Salah satu pencapaian dalam hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran adalah dengan disepakatinya The Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tahun 2015. Kesepakatan yang juga melibatkan Tiongkok, Perancis, Jerman, Rusia, Inggris, serta Uni Eropa tersebut menekankan tentang penggunaan nuklir Iran secara damai. Bagi Presiden Obama saat itu, kesepakatan ini dinilai sebagai salah satu harapan baru untuk dunia yang lebih aman (Reuters, 2015). Selain itu, kesepakatan tersebut membuat Iran mulai dibebaskan dari sanksi ekonomi yang dikenakan oleh organisasi multilateral maupun negara-negara akibat pengembangan nuklirnya (The State Government, 2015).

 

Namun seiring perubahan kepemimpinan di AS, Presiden Trump membatalkan keterlibatan AS dalam kesepakatan tersebut tahun 2018. Sikap Trump yang demikian sebenarnya dapat ditelusuri sejak masa kampanyenya ketika ia menyatakan bahwa negosiator dalam kesepakatan JCPOA inkompeten (The Atlantic, 2015). Menurut Trump, kesepakatan tersebut membuat Iran lebih dekat dalam membuat senjata nuklirnya saat ini. Akan tetapi tudingan ini terbantahkan oleh pernyataan dari The International Atomic Energy Agency (IAEA) yang memonitor program nuklir Iran. IAEA menyatakan bahwa Iran menaati semua larangan yang terdapat dalam JCPOA (Washington Post, 2017). Meskipun demikian, Trump tetap menganggap bahwa kesepakatan JCOPA tidak akan membawa ketenangan dan perdamaian (CNN, 2018).

 

Di tengah segala perdebatan mengenai keputusan AS keluar dari kesepakatan tersebut, tulisan ini melihat bahwa persepsi ancaman terhadap Iran merupakan salah satu determinan keluarnya AS dari kesepakatan nuklir ini. Anarki internasional dalam perspektif konstruktivis yaitu Hobbesian membuat Iran dipersepsikan sebagai “the others” oleh Amerika Serikat (Wendt, 1999). Persepsi tersebut bukan muncul secara tiba-tiba. Apabila melihat sejarahnya, hubungan AS dan Iran memang sangat dinamis. Saat rezim Shah berkuasa, hubungan kedua negara dapat dikatakan baik. Sehingga pada tahun 1967, program penelitian pengembangan nuklir Iran didukung oleh AS. Namun setelah revolusi Iran dan pergantian rezim, hubungan keduanya dinilai konfliktual (Wilsonian Project, 2016). Hubungan kian memburuk terutama setelah Presiden Bush melabelkan Iran sebagai poros setan (PBS, 2002). Pelabelan juga disertai penjelasan bahwa Iran secara agresif mengembangkan Weapon Mass Destruction dan secara langsung mendukung terorisme regional dan global (Arms Control, 2002).

 

Persepsi itulah yang kembali dipakai oleh Presiden Trump. Dalam pidatonya Presiden Trump menjelaskan bagaimana persepsi tersebut terbentuk setelah pergantian rezim di Iran pada 1979 menjadi rezim “ekstrimis”. Sejak itu, kebijakan-kebijakan Iran dinilai sebagai ancaman. Menurut Presiden Trump, kesepakatan yang telah dibuat dengan adanya pembebasan sanksi ekonomi hanya menguntungkan Iran. Trump bahkan menuduh Iran telah melanggar kesepakatan (BBC, 2018).

 

Faktor penting lainnya di balik keputusan Trump ini adalah terkat persepsi AS atas aktifitas regional Iran. Rezim Iran telah mendukung adanya konflik-konflik di Timur Tengah seperti Suriah dan Yaman dengan mensponsori teror, mendukung diktaktor Suriah yang menggunakan misil dan senjata untuk menyerang warga sipil (BBC, 2018). Menutup pidatonya, Trump juga menjelaskan bahwa kebijakan untuk keluar dari kesepakatan tersebut harus dilakukannya demi keamanan AS (BBC, 2018).

 

Kritik banyak pihak atas keluarnya AS dari kesepakatan ini tidak menggoyahkan Gedung Putih. Presiden Trump bahkan memberikan sanksi ekonomi tambahan terhadap Iran (The White House, 2018).  Kesepakatan JCPOA pada saat ini juga masih belum dapat diprediksi keberlanjutannya walaupun negara-negara seperti Perancis dan Tiongkok menyatakan masih ingin menunjukkan komitmennya terhadap kesepakatan ini (Sputnik Internasional, 2019).

 

Posisi Indonesia dalam Kesepakatan Nuklir Iran

Isu mengenai nuklir Iran bukan merupakan suatu hal yang baru bagi Indonesia. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia terlibat dalam pembentukan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1747 yang menjatuhkan sanksi berat kepada Iran terkait pengembangan nuklirnya (Merdeka, 2007). Akan tetapi, hal ini menuai kritikan di level domestik (Detik, 2007). Kritikan-kritikan tersebut membuat DPR mengajukan hak interpletasinya yang didukung sebagian besar anggotanya saat itu (Merdeka, 2007). Akibat munculnya kritik-kritik tersebut, pada pemungutan resolusi Iran berikutnya Indonesia menyatakan abstain (Merdeka, 2008). Sikap abstain Indonesia membuat Duta Besar Iran untuk PBB, Mohammad Khazee, secara langsung menyampaikan penghargaannya terhadap Indonesia dan menyatakan bahwa resolusi tersebut tidak akan menghalangi Iran dalam mempertahankan haknya yaitu pengembangan nuklir dengan tujuan damai (Merdeka, 2008).

 

Lalu bagaimana sikap Indonesia terkait nuklir Iran, pada khususnya JCPOA? Pada tahun 2015 dalam laman resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, menyatakan bahwa Indonesia menyambut baik kesepakatan nuklir Iran yang tertuang dalam JCPOA terkait penggunaan nuklir dengan tujuan damai. Lebih lanjut, dalam laman tersebut Indonesia berharap agar kesepakatan tersebut dapat membantu menciptakan situasi kondusif di Timur Tengah dan mengadopsi nilai-nilai Indonesia yang mengedepankan dialog dan diplomasi (Website Resmi Kementrian Luar Negeri Indonesia, 2015). Itu sebabnya, Indonesia menyesalkan pembatalan kesepakatan nuklir Iran oleh AS secara sepihak di tahun 2018. Menlu RI, Retno Marsudi menyatakan bahwa Indonesia tetap berharap agar kesepakatan tersebut berlanjut (Kompas, 2018). Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, juga menyatakan bahwa kebijakan AS tersebut menyulitkan Iran (Kompas, 2018). Sikap Indonesia yang demikian tidak dapat dilepaskan dari nilai dan norma yang dianut oleh Indonesia yaitu penggunaan nuklir secara damai melalui jalur diplomasi dan dalam bentuk multilateralisme, yang sebenarnya telah diupayakan melalui JCPOA (Detik, 2018).

 

Ditulis oleh: Noviyanti

Mahasiswa Magang dari Departemen Hubungan Internasional Universitas Diponegoro

 

Daftar Pustaka

Wendt, A. 1999. Social Theory of International Politics, Cambridge University Press,Cambridge.

Reuters 2018. Iran deal reached, Obama hails step towards more hopeful world, dilihat 29 Maret 2019, (https://www.reuters.com/article/us-iran-nuclear-idUSKCN0PM0CE20150714)

The Atlantic 2015. Where the 2016 Candidates Stand on the Iran Nulclear Deal, dilihat 29 Maret 2019, (https://www.theatlantic.com/politics/archive/2015/09/where-the-2016-candidates-stand-on-the-iran-nuclear-deal/448380/).

The Washington Post 2017. IAEA confirms Iran is meeting its commitments under nuclear agreement, dilihat 30 Maret 2019, (https://www.washingtonpost.com/world/national-security/iaea-confirms-iran-is-meeting-its-commitments-under-nuclear-deal/2017/11/13/8d9b9fb0-c893-11e7-b0cf-7689a9f2d84e_story.html?utm_term=.0cfe4ea72162).

Wilsonian Project 2016. A History of Iran’s Nuclear Program, dilihat pada 29 Maret 2019, (https://www.washingtonpost.com/world/national-security/iaea-confirms-iran-is-meeting-its-commitments-under-nuclear-deal/2017/11/13/8d9b9fb0-c893-11e7-b0cf-7689a9f2d84e_story.html?utm_term=.0cfe4ea72162).

PBS. How Iran Entered The Exist, dilihat 04 April 2019, (https://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/tehran/axis/map.html).

Arms Control Assocatiation 2002. Bush Labels North Korea, Iran, Iraq an “Axis of Evil”, dilihat pada 04 April 2019. (https://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/tehran/axis/map.html).

BBC 2017. Iran nuclear deal: Trump’s speech in full, dilihat pada 05 April 2019, (https://www.bbc.com/news/world-us-canada-41617488).

Merdeka 2007. Sikap RI di Dewan Keamanan PBB tentang Iran Sudah Tepat dan Realistis, dilihat pada 04 April 2019, (https://www.merdeka.com/politik/sikap-ri-di-dewan-keamanan-pbb-tentang-iran-sudah-tepat-dan-realistis-vy4gagj.html).

Detik 2007. Setuju Resolusi Iran, RI Jadi Bagian dari Konflik Timteng, dilihat pada 04 April 2019, (https://www.merdeka.com/politik/sikap-ri-di-dewan-keamanan-pbb-tentang-iran-sudah-tepat-dan-realistis-vy4gagj.html).

Merdeka 2007. Inteplasi Resolusi 1747 Diharapkan Pecahkan Rekor DPR, dilihat pada 04 April 2019, (https://www.merdeka.com/politik/interpelasi-resolusi-1747-diharapkan-pecahkan-rekor-dpr-5l13qfi.html).

Merdeka 2008. Semua Anggota DK-PBB Kecuali RI Setujui Pemberian Sanksi Tambahan Untuk Iran, dilihat pada 05 April 2019, (https://www.merdeka.com/politik/semua-anggota-dk-pbb-kecuali-ri-setujui-pemberian-sanksi-tambahan-untuk-iran-88mheip.html).

Merdeka 2008. Iran Sampaikan Penghargaan Kepada RI karena Abstain, dilihat pada 08 April 2019, (https://m.merdeka.com/politik/iran-sampaikan-penghargaan-kepada-ri-karena-abstain-w8lav9j.html).

Kompas 2018. Indonesia Sesalkan AS Keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran, dilihat pada 08 April 2019, (https://nasional.kompas.com/read/2018/07/11/19225461/indonesia-sesalkan-as-keluar-dari-kesepakatan-nuklir-iran).

Kompas 2018. AS Keluar dari Perjanjian Iran Minta Dukungan Indonesia, dilihat pada 09 April 2019, (https://sputniknews.com/europe/201903261073537753-france-china-jcpoa-north-korea/).

Detik 2018. JK dan Wapres Iran Bahas Nuklir RI Dorong Kesepakatan JCPOA Lanjut, dilihat pada 10 April 2019, (https://sputniknews.com/europe/201903261073537753-france-china-jcpoa-north-korea/).

Sputnik News 2019. France, China, Reaffirm Commitment to JCPOA, DPPRK Denuclearation, dilihat pada 08 April 2019, (https://sputniknews.com/europe/201903261073537753-france-china-jcpoa-north-korea/).

The State Gov 2015, Joint Comprehensive Plan of Action, dilihat 29 Maret 2019, (https://www.state.gov/documents/organization/245317.pdf).

The White House 2018, Remarks by President Trump on the Joint Comprehensive Plan of Action, (https://www.whitehouse.gov/briefings-statements/remarks-president-trump-joint-comprehensive-plan-action/).

Kementrian Luar Negeri Indonesia 2015, Pemerintah Indonesia Sambut Baik Kesepakatan Program Nuklir Iran, dilihat pada 23 Maret 2019, (https://nasional.kompas.com/read/2018/07/11/19225461/indonesia-sesalkan-as-keluar-dari-kesepakatan-nuklir-iran).