Tahun 2019

Seminar Women, Islam, and Politics: Indonesia and India

Kategori: Tahun 2019
Dilihat: 46

india2Demokratisasi di negara-negara berkembang telah memperluas kesempatan bagi perempuan untuk lebih banyak berperan dalam bidang politik dan ekonomi. Khususnya di Indonesia dan India, dua negara demokrasi terbesar di Asia, peran perempuan tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan negara-negara tersebut untuk mencapai posisinya sekarang. Dalam perpolitikan, kedua negara ini telah melahirkan pemimpin-pemimpin perempuan, seperti Megawati Soekarno Putri dan Indhira Gandhi. Perempuan juga telah menjadi penggerak perekonomian melalui kegiatan formal maupun informal dalam berbagai sektor.

 

Untuk melihat dan membandingkan peran perempuan dari kedua negara, maka Pusat Penelitian Politik LIPI bekerjasama dengan University of New South Wales-Sydney mengadakan seminar intern bertajuk “Women, Islam, and Politics: Indonesia and India” pada tanggal 22 Agustus 2019 di Ruang Seminar Pusat Penelitian Politik LIPI. Dengan moderator Dr. Kurniawati Hastuti Dewi, koordinator kajian gender dan politik Pusat Penelitian Politik LIPI, diskusi ini menghadirkan tiga orang pembicara, yaitu Dr. Tanya Jankimow, pengajar senior University of New South Wales, Sydney; Prof. George Mathew, Ketua Institute of Social Sciences, New Delhi, India; dan Associate Professor Minako Sakai, juga dari University of New South Wales-Sydney.

 

Pembicara pertama, Prof. George Mathew mempresentasikan paparan berjudul “Women in Political Process in India: Way Forward”. Ia membuka paparannya dengan menceritakan seorang tokoh pergerakan kemerdekaan bernama Aruna Asaf Ali yang banyak melakukan protes dan akhirnya berimplikasi pada perubahan sistem di India. Aruna adalah tokoh yang pada 1942 melakukan pengibaran bendera dalam aksi Quit-India Movement. Merefleksikan perjalanan sejarah India, Prof. Mathew melihat adanya perkembangan keikutsertaan perempuan dalam politik. Namun tentunya, Mathew mengakui masih banyak hal yang dapat ditingkatkan untuk memberikan lebih banyak tempat bagi perempuan dalam ranah pembuatan kebijakan di India.

 

Selanjutnya Dr. Tanya Jakimow memaparkan mengenai keterlibatan perempuan dalam makalahnya berjudul “Women’s Adverse Incorporation into Party Politics: Political labour in India and Indonesia”.  Menurut Dr. Jakimow, terdapat beberapa alasan perempuan masih belum terwakili dengan baik dalam politik, yaitu alasan sosial ekonomi, budaya dan ideologi, peraturan partai, dan aspirasi perempuan itu sendiri. Dr. Jakimow menggunakan hasil studinya di India untuk melihat perbandingan kasus keterlibatan perempuan dalam politik di Indonesia.

 

india1Pembicara terakhir, Dr. Minako Sakai memaparkan penelitiannya bersama Bhirawa Anoraga berjudul “Rethinking the Education and Employment Paradox of Muslim Women in Contemporary Indonesia”. Penelitian ini menggali adanya hambatan perempuan untuk dipekerjakan secara formal walaupun akses terhadap pendidikan bagi perempuan telah meningkat secara signifikan. Penelitian ini melihat bahwa terdapat beberapa tantangan bagi perempuan yang bekerja dalam bidang formal, yaitu adanya preferensi pemilihan laki-laki dalam promosi, kurangnya dukungan bagi perempuan dalam hal cuti melahirkan, jam kerja yang ketat, dan adanya konsep peran pencari nafkah pada laki-laki dalam hukum pernikahan. Terlepas dari itu, Dr. Sakai dan Anoraga melihat bahwa walaupun dalam lapangan kerja formal terjadi tren negatif, terdapat peningkatan industri kecil yang dimiliki perempuan. Hal ini memperlihatkan perlunya kajian kembali mengenai peran perempuan dan definisi mengenai bekerja itu sendiri. (Khanisa)