Tahun 2019

Seminar Intern Mahasiswa Magang 30 Juli 2019

Kategori: Tahun 2019
Dilihat: 47

internDinamika politik global pasca-Perang Dingin memunculkan karakteristik yang berbeda. Munculnya kekuatan-kekuatan baru (rising powers) menantang bipolaritas yang berkuasa pada era sebelumnya. Secara khusus, naiknya Tiongkok sebagai salah satu kekuatan politik-ekonomi global memaksa  Amerika Serikat untuk melakukan penyesuaian strategi politik luar negerinya dengan membentuk persekutuan baru bersama negara-negara di kawasan Asia, seperti Jepang, Australia, dan India dalam wujud Quadrilateral Security Dialogue (QUAD). Sehubungan dengan itu, Indo-Pasifik semakin menguat dan menjadi sebuah konsep regional di mana kekuatan-kekuatan lama maupun baru saling berinteraksi dan bertarung untuk mempertahankan maupun memperluas pengaruhnya. Hal ini mau tidak mau juga berdampak terhadap ASEAN (Association of South East Asian Nations) sebagai sebuah organisasi regional yang menaungi sepuluh negara Asia Tenggara. ASEAN harus menyesuaikan strategi untuk menghadapi tantangan-tantangan baru ini.

 

Membahas lebih jauh mengenai perubahan dinamika politik global dan peran ASEAN, Mohammad Hendry Kurniawan salah satu peserta magang pada Pusat Penelitian Politik LIPI, mempresentasikan artikelnya yang berjudul “Posisi ASEAN Centrality: Antara Sebagai Poros atau Polaritas Baru Di Indo-Pasifik”. Mahasiswa jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Pasundan, ini mengawali pembahasannya dengan menggali dinamika Indo-Pasifik dan bagaimana negara-negara yang tergabung dalam QUAD menghadapi peningkatan dominasi Tiongkok. Dalam hal ini, sebagai organisasi regional yang sangat penting, muncul wacana perluasan QUAD dengan mengikutsertakan ASEAN di dalamnya.

 

Dalam sudut pandang Hendry, ASEAN memiliki tendensi untuk bersikap netral dalam menghadapi perseteruan di tingkat global. ASEAN yang bukan merupakan sebuah pakta militer, memang tidak mendasarkan diri pada kerja sama yang akan mengikat mereka pada sebuah polar. Dalam hubungannya dengan negara mitra, ASEAN mengutamakan sentralitas yang berarti bahwa poros dari kerja sama yang terjalin adalah ASEAN itu sendiri. Hal ini juga diterapkan pada kerja sama ASEAN dengan negara-negara besar, sehingga mereka tidak masuk dalam perebutan kekuasaan antara negara-negara tersebut. Menutup paparannya, Hendry menggarisbawahi bahwa hedging merupakan strategi yang banyak digunakan untuk melihat apa yang selama ini dilakukan ASEAN untuk bermanuver di antara permainan politik global. (Khanisa)