Tahun 2019

Peluncuran dan Bedah Buku “Sisi Gelap Perang Asia”

Kategori: Tahun 2019
Dilihat: 34

asia1Pusat Penelitian Politik LIPI kembali bekerjasama dengan Penerbit Buku Kompas menggelar Peluncuran dan Bedah Buku Sisi Gelap Perang Asia pada 20 September 2019. Bertempat di Ruang Seminar Pusat Data dan Dokumentasi  Ilmiah (PDDI) LIPI, buku karya Indonesianis asal Jepang. Prof. Aiko Kurasawa ini dibahas oleh tiga orang pakar di bidangnya masing-masing, yaitu Prof. Asvi Warman Adam (Profesor Riset LIPI bidang Sejarah Sosial dan Politik), Dr. Rushdy Hoesein (Sejarawan sekaligus Ketua Dewan Pembina Komunitas Historia Indonesia), dan Dr. Meta Sekar Puji Astuti (Dosen di Departemen Sastra Jepang Universitas Hasanuddin), dengan moderator Dr. M. Haripin, peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI. Acara dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI, Prof. Dr. Firman Noor, MA. Dalam pembukaannya, Prof. Firman menekankan bahwa buku ini penting karena mengisi missing link selama 12 tahun, antara 1945-1957, dalam hubungan Indonesia dan Jepang. Hal tersebut menjadi kekuatan buku setebal 236 halaman ini karena tidak banyak yang membahas periode pasca 1945 hingga dibukanya hubungan diplomatik tahun 1958, apalagi sebagai sebuah kajian sejarah yang berorientasi kepada wong cilik, mereka yang terabaikan dan memiliki kesamaan nasib akibat dipersulit oleh perang. Selanjutnya, keynote speech dari Dr. Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berhalangan hadir dalam kesempatan ini disampaikan oleh Direktur Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Triyana Wulandari.

 

Mengawali paparannya, Asvi menguraikan dua bagian penting dari karya Aiko yang merupakan hasil studi doktoralnya yang kedua di Universitas Tokyo, Jepang, setelah yang pertama diselesaikannya di Cornell University-Amerika Serikat. Bagian pertama, yaitu periode antara tahun 1945-1950 adalah kisah orang-orang yang terlantar karena situasi politik dan peperangan saat itu. Mereka adalah mahasiswa Indonesia di Jepang, keluarga pernikahan campur antara orang Indonesia dan Jepang, deserter, dan romusha. Bagian kedua, yaitu antara tahun 1951-1958, menyoroti keputusan pada tingkat atas, yaitu mengenai pampasan perang dan proses pemulihan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Jepang. Kedua bagian inilah yang bagi Asvi membuat buku ini mampu melihat sejarah kedua negara dari atas dan bawah sekaligus. Lebih jauh Asvi menekankan bahwa buku ini menawarkan kebaruan dari perspektifnya yang non-konvensional dan sumbernya yang lebih lengkap, yaitu digunakannya sumber dari Belanda, Inggris, dan Indonesia, tidak hanya dari Jepang. Selain itu juga ada wawancara dengan cukup banyak orang dan berlangsung puluhan tahun dengan rentang waktu yang cukup panjang.

 

Namun, menurut Asvi, ada hal penting yang tidak dibahas di buku Aiko ini, yaitu terkait kasus Romusha, terutama dalam konteks apakah Soekarno bersalah atau tidak dalam kasus ini karena pada dasarnya Soekarno menyadari dan mengakui bahwa ia yang mendukung pengiriman Romusha. Selain itu, hal lain yang juga tidak disinggung dalam buku ini dan bagi Asvi bisa mewakili salah satu aspek penting dalam periode tersebut adalah orang Indonesia yang bersama orang Jepang lainnya menjadi saksi dan korban peristiwa sejarah bom Hiroshima. Hal ini ada dalam kesaksian Arifin Bey yang belajar di Hiroshima ketika bom dijatuhkan tahun 1945. Arifin Bey termasuk 49% orang yang selamat dari mereka yang berada dalam radius 2000 meter dari pusat bom. Ia menyaksikan bagaimana gedung-gedung itu runtuh dan mayat-mayat bergelimpangan. Kisah ini menurut Asvi bisa merangkum satu peristiwa sejarah juga dialami oleh orang Indonesia yang tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga korban dari peristiwa internasional tersebut.

 

Diskusi berlangsung hangat dan menarik, terutama dengan kehadiran Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang periode 2013-2016, Dr. Yusron Ihza Mahendra, LL.M; sejarawan Prof. Taufik Abdullah; sejarawan Peter Carey; Wakil Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo periode 2012-2014, Dubes Jonny Sinaga; dan beberapa tokoh lainnya. Berbagai pengalaman dan kesan-kesan mengenai kerja akademik Prof. Aiko mengisi sesi tanya jawab, selain beberapa pertanyaan untuk memperkaya substansi, termasuk jugun ianfu yang tidak diceritakan dalam karya sejarah ini. (Lidya C. Sinaga)

asia3

asia4

asia5

 asia2