Tahun 2010

Diskusi Bidang Perkembangan Politik Internasional: ”Indonesia di Tengah Pusaran Arus Perdagangan Bebas”. Selasa, 27 April 2010.

Kategori: Tahun 2010

Diskusi dengan tema “Indonesia di Tengah Pusaran Arus Perdagangan Bebas” yang diselenggarakan oleh Bidang Perkembangan Politik Internasional, Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI, dimulai pada pukul 10.10 WIB. Diskusi diadakan di Ruang Seminar PDII LIPI, Lt. 2. Jl. Jend. Gatot Subroto 10, Jakarta, dan dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian Politik-LIPI, Bapak Prof. (Ris). Dr. Syamsuddin Haris, M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan tujuan diskusi yang antara lain, pertama, untuk menjawab peluang dan tantangan Indonesia di era perdagangan bebas/free trade. Kedua, mencoba mendorong multistakeholder untuk lebih serius menjalin kerjasama di era perdagangan bebas saat ini. Ketiga, diskusi diharapkan akan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada pihak-pihak terkait, seperti Kementerian Luar Negeri, KADIN, dan sebagainya. Diskusi dilanjutkan dengan presentasi para pembicara yang terdiri dari empat orang, yaitu: Dr. Adriana Elisabeth (Kepala Bidang Perkembangan Politik Internasional LIPI), Bapak Gusmardi Bustami (Dirjen Kerjasama Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan RI), dan Bapak Thomas Darmawan (Ketua Komisi Tetap Industri Makanan, Minuman dan Tembakau KADIN), dan Bapak Benyamin Carnadi (Kasubdit Kerjasama Ekonomi ASEAN, Kementerian Luar Negeri RI). Acara dipandu oleh Dra. Awani Irewati, MA. 

Adriana Elisabeth menyampaikan konsep perdagangan bebas sebagai sistem kebijakan perdagangan, dimana para pedagang langsung dapat bertransaksi tanpa campur tangan dari pemerintah. Free trade, merupakan antitesa dari ekonomi merkantilisme. Doktrin dasar merkantilisme antara lain meliputi kekuatan nasional, kekuatan negara dan peningkatan ekonomi melalui peningkatan ekspor dan pembatasan impor. Implementasi konsep free trade adalah dalam integrasi ekonomi atau regionalisme, termasuk kesepakatan dan pemberlakuan free trade agreement/FTA. Kesepakatan ini diharapkan akan meningkatkan ekonomi dan pemerataan pendapatan, yang secara tidak langsung akan menanggulangi kemiskinan di Indonesia. Tetapi, apakah FTA akan mampu mewujudkannya?

Sementara, Benyamin Carnadi dalam outline persentasinya menyampaikan beberapa hal yaitu transformasi ASEAN, hasil-hasil utama KTT ke-16 ASEAN (di Hanoi), dan integrasi ASEAN dalam tatanan global dan regional. Setelah 40 tahun berdiri, ASEAN telah benyak mengalami perubahan. KTT di Bali pada tahun 2003 menyepakati pembentukan Komunitas ASEAN/ASEAN Community pada tahun 2015 melalui tiga pilar utama, yaitu pembentukan ASEAN Political-Security Community (APSC), ASEAN Ecomomic Community (AEC) dan ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC). Beberapa hasil KTT ASEAN ke-16, antara lain: ASEAN Connectivity, G-20, Arsitektur Kawasan, Kontra Terorisme. Di harapkan ASEAN Convention on Counter Terrorism (ACCT) akan segera dimplementasikan.

Gusmardi Bustami dalam paparannya menyampaikan bahwa posisi Indonesia sangatlah strategis di dunia. Indonesia merupakan negara demokratis terbesar ketiga di dunia setelah India, dan AS. Selain itu, Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan 240 juta penduduk. Dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia (4,5%) setelah RRC dan India. Namun dengan adanya ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement) kalau Indonesia tidak siap, maka Indonesia hanya akan menjadi penonton. Oleh sebab itu, Indonesia harus menyiapkan langkah-langkah yang strategis, antara lain dengan penguatan daya saing global, pengamanan pasar domestik dan penguatan ekspor.

Thomas Darmawan sebagai pembicara terakhir menyampaikan pentingnya peran sektor jasa. Karena sektor jasa memiliki peranan yang siginifikan dalam perekonomian nasional. Sektor jasa berhubungan erat dengan produksi barang. Sebenarnya China merupakan pasar yang potensial untuk Indonesia, dengan populasi 1, 312 miliar, 300 miliarnya merupakan kelas menengah/middle class. Dan dari 20 provinsi di China memiliki populasi lebih dari 30 miliar. Konsumsi makanan di setiap provinsi di China berbeda-beda. Oleh sebab itu, sektor ini yang sebenarnya bisa dijadikan ladang ekspor oleh Indonesia. Tetapi, apakah ini sudah di sadari oleh kita/pemerintah?

Terakhir, satu pertanyaan penting yang harus dijawab adalah apakah di pusaran perdagangan bebas saat ini, Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara lain, atau sebaliknya, Indonesia malah menjadi tujuan negara impor terbesar bagi produk-produk dari China dan negara lainnya. Indonesia pada kenyataannya, mau tidak mau, siap atau tidak siap, Indonesia sedang berada dalam pusaran arus perdagangan atau pasar bebas. (Prayogo/ Editor Tamu: Adriana Elisabeth)