Tahun 2010

Seminar Intern Pusat Penelitian Politik LIPI “Mengenal Seluk Beluk Publishing” Jakarta, 22 April 2010

Kategori: Tahun 2010
 
Eksistensi Pusat penelitian politik LIPI sebagai sebuah lembaga penelitian sedikit banyak ditentukan oleh penerbitan hasil karyanya baik berupa jurnal, buku, majalah dan media lainnya. Piranti cetak berbentuk buku atau jurnal dan majalah atau bulletin adalah sarana untuk mengkomunikasikan olah pikir dan refleksi para peneliti kepada masyarakat luas. Diseminasi ilmu pengetahuan adalah salah satu kerja kemanusiaan yang hakiki karena menopang peradaban.   Hermawan Sulistyo-yang kerap disapa dengan Kikiek-meyakini bahwa buku tetap tidak bisa tergantikan sebagai piranti informasi karena daya rangsangnya yang kuat terhadap imajinasi. Dalam seminar intern P2P LIPI yang dihelat pada 22 April 2010 tersebut lebih lanjut Mas Kikiek mengungkapkan bahwa Internet dengan kemampuannya menyediakan informasi yang super cepat dan super melimpah belum mampu menggeser kedudukan buku. Melimpahnya data yang diberikan oleh internet justru memunculkan-dalam bahasa Umberto Eco-chaotic information. Pembaca akan “kekenyangan informasi” sehingga acap kali melewatkan data yang substantif. 

Ada tiga hal penting menurut lulusan Arizona State University tersebut dalam dunia publishing yaitu fase penulisan, penerbitan, dan pemasaran. Dalam fase penulisan, ada empat faktor yang harus diperhatikan dengan cermat karena berpengaruh besar terhadap tingkat penerimaan pasar. Pertama adalah waktu. Cara penulisan untuk media cetak harian (koran), mingguan (majalah), empat bulanan, atau tahunan, dan buku pastilah masing-masingnya berbeda. Dimensi waktu mempengaruhi style atau gaya penulisan media cetak. Sebagai contoh media cetak untuk harian mengutamakan kecepatan berita sedangkan media cetak untuk tahunan lebih mengutamakan pembungkusan isu atau tema yang tidak mudah basi. Kedua adalah ruang. Jelas bahwa penulisan untuk koran dan buku berbeda. Buku menyediakan ruang yang luas untuk mengkomunikasikan ide sehingga penulis leluasa mengekspresikan gagasan melalui kalimat dan kata yang dipilihnya. Sedangkan dalam koran, pemilihan kalimat dan kata harus seefisien mungkin karena ruang yang terbatas. Ketiga adalah segmentasi pembaca. Ketepatan penulis dalam merumuskan segmentasi pembaca merupakan modal dasar kesuksesan buku ketika dilempar ke pasaran. Keempat adalah pemilihan karakter huruf. Untuk buku teks disarankan agar jangan memakai tipe sans-serif (huruf cetak) karena membuat mata cepat lelah saat membaca. Tipe huruf sans-serif lebih tepat digunakan untuk menulis judul.

Kikiek lebih lanjut menguraikan pula tentang tips praktis dalam menulis. Dalam menulis teks makalah atau buku lebih baik menulis kesimpulannya terlebih dahulu baru kemudian dipungkasi dengan pendahuluan. Pemakaian logika menulis yang terbalik mampu mengetatkan gagasan sehingga tidak melebar dan runtut. Kikiek mencontohkan pula permainan kartu agar ide yang tersebar dalam pikiran dapat disistematisasikan dalam tulisan yang runtut. Diharapkan dengan lebih menseriusi tiga fase dalam publishing tersebut akan meningkatkan kualitas terbitan dari Pusat penelitian Politik LIPI. (Yogi Setia Permana)