Tahun 2010

Ekonomi Politik Cina Setelah Tiga Dekade Reformasi Ekonomi

Kategori: Tahun 2010
Ada pepatah mengatakan bahwa “Menemukan Orang Cina di belahan dunia manapun sama mudahnya dengan menemukan produk buatan Cina”. Pepatah ini memperlihatkan bahwa dimana ada produk Cina disitulah ada Orang Cina dan sebaliknya. Hal ini memperlihatkan bahwa Cina menjadi negara yang mampu merambah daerah manapun dan menempatkannya sebagai macan Asia yaitu negara yang tidak bisa dipandang sebelah mata karena Cina mampu menembus tiga besar penghasil produk domestik bruto setelah Amerika dan Jepang. Keberhasilan ini ditopang oleh reformasi ekonomi yang dicetuskan oleh Deng Xiaoping pada tahun 1978.

Reformasi ekonomi ini diambil sebagai akibat gagalnya model ekonomi terencana ala Uni Soviet yang diterapkan masa kepemimpinan Mao pada tahun 1949. Model ekonomi ini dianggap memiliki kelemahan seperti adanya dominasi negara demi tujuan politik pemerintahan dan partai; menutup ruang inovasi dan inisiatif bagi perusahaan maupun pemborosan karena target sebagai tujuan utama tanpa memperhitungkan efisiensi. Tidak adanya koordinasi antar berbagai lembaga bentukan negara dengan perusahaan menyebabkan perusahaan memangku tanggung jawab yang besar atas apa yang direncanakan oleh berbagai lembaga bentukan negara tersebut tanpa dilekati oleh kekuasaan. Topik menarik mengenai Cina ini diambil sebagai tema diskusi rutin di Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Diskusi rutin ini merupakan tradisi yang telah melembaga selama puluhan tahun sebagai wadah bagi para peneliti untuk mengasah kepekaan atas berbagai isu yang sedang berkembang tidak saja terbatas pada isu lokal dan nasional melainkan juga internasional. Dipandu oleh Lidya Christin Sinaga, seorang lulusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada pada Rabu 17 Februari 2010 pukul 10.00 di ruang seminar P2P LIPI, seminar intern ini menjadi lebih menarik karena perspektif yang coba disuguhkan oleh Lidya mengenai hubungan antara politik terhadap ekonomi yang tidak selalu bersifat matematis. 

Jika selama ini Orde Baru selalu mengedepankan stabilitas politik sebagai penopang kehidupan ekonomi maka melalui diskusi ini Lidya ingin menunjukkan bahwa beragam pendapat dan sikap berbagai elemen dan kekuatan di tubuh partai dominan Cina yang diperlihatkan dalam kekuatan konservativ maupun reformis tetap tidak berpengaruh secara signifikan pada tetap bergulirnya reformasi di bidang ekonomi. Hal ini dikarenakan kuatnya kepemimpinan dan terintegrasinya sistem kenegaraan di Cina.

Diskusi ini menghasilkan beberapa catatan yang bisa dijadikan pelajaran berharga bagi Indonesia. Jika akhir-akhir ini wajah Indonesia disibukkan oleh kondisi pertikaian antara lembaga eksekutif dan legislatif yang bermuara pada ’retaknya’ hubungan partai-partai pendukung pemerintahan sebagai akibat tidak adanya ketegasan dan kepemimpinan yang kuat dari partai dominan. Maka Cina justru mampu memperlihatkan bahwa tujuan utama negara dalam persoalan kemajuan ekonomi melalui kebijakan reformasi yang dilakukan bisa tetap berada pada tracknya karena ditopang oleh kekuatan partai dan negara di bawah satu kepemimpinan yang kuat dan tegas. Kelebihan ini mampu menghimpun berbagai elemen yang ada untuk berada dalam satu kata menuju tujuan yang telah ditetapkan bersama. Akibat lebih lanjutnya berbagai kebijakan yang coba digulirkan pemerintah dan negara menjadi efektif dilaksanakan serta menempatkan Cina menjadi salah satu negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat luar biasa. (Septi Satriani)