Tahun 2010

Pemutaran dan Diskusi Film “Balibo Five”

Kategori: Tahun 2010

Nuansa agak berbeda dihadirkan dalam diskusi rutin di Pusat Penelitian Politik pada tanggal 15 Desember 2009. Tidak seperti diskusi internal sebelumnya, kesempatan kali ini diisi dengan pemutaran film ”Balibo Five” yang diikuti dengan diskusi bersama Dr. Asvi Warman Adam, sejarawan sekaligus peneliti bidang politik lokal P2P LIPI. Film ini sempat menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia, terutama setelah penayangannya dalam Jiffest (Jakarta International Film Festival) yang diselenggarakan di Jakarta, Desember 2009, ditolak oleh Lembaga Sensor Film (LSF) karena dianggap menyudutkan tentara Indonesia.

Film berdurasi 1 jam 46 menit mengisahkan lima orang wartawan untuk Channel 7 dan Channel 9 Australia, yaitu Brian Peters (Channel 9), Malcolm Rennie (Channel 9), Tony Stewart (Channel 7), Gary Cunningham (Channel 7), dan Greg Shackleton (Channel 7) yang meliput Timor-Timur tahun 1975. Kelimanya, terdiri dari dua orang warga negara Australia,  satu orang warga negara Selandia Baru, dan dua orang warga negara Inggris, kemudian tewas tertembak pada 16 Oktober 1975. Menurut pemerintah Australia, berdasarkan laporan Tom Sherman, kelimanya gugur dalam suatu konflik bersenjata di Balibo antara Fretilin melawan kelompok UDT dan Apodeti yang didukung tentara Indonesia. Tiga minggu sesudahnya, Roger East, yang ditawari Ramos Horta untuk mengepalai Kantor Berita Timor-Timur datang ke Timor-Timur mencari kelima wartawan muda tersebut. Ternyata, Roger East pun mengalami hal yang sama, tewas tertembak dalam invasi gabungan tanggal 7 Desember 1975.

Asvi Warman Adam dalam paparan diskusinya ”Balibo Five: Antara Fiksi dan Sejarah”, mengungkapkan ada dua hal yang menjadi kontroversi sejarah, yakni proses kematian kelima wartawan tersebut dan betulkah jenasah mereka dimakamkan di Tanah Kusir, seperti yang disebutkan bahwa jenasah kelimanya dibakar menjadi abu dan abu jenasah tersebut dibawa ke Jakarta untuk dimakamkan di Tanah Kusir, 5 Desember 1975. Pada film digambarkan bahwa kematian mereka disebabkan tembakan pistol ke kepala dan tusukan pisau serta bayonet. Sementara, Asvi menambahkan, Kolonel (Purn.) Gatot Purwanto, yang ikut bertempur di Balibo saat itu, ketika menonton film ini di Taman Ismail Marzuki (TIM) bersama wartawan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), 7 Desember 2009, membantah hal tersebut dan mengatakan bahwa mereka tewas dalam suatu kontak senjata.

Banyak hal yang bias memang ketika kita menonton film ini, terutama tokoh Ramos Horta dan Fretilin yang menonjol dan di”pahlawan”kan dalam cerita ini, bukan Xanana Gusmao. Film ini hanyalah sepenggal sejarah untuk kepentingan kelima wartawan tersebut. Sehingga perlu bagi kita untuk menonton film ini dengan menyadari bahwa ini dilakukan untuk mengungkapkan kekerasan terhadap lima orang wartawan tersebut. Pemutaran film ini memang dilakukan secara terbatas di kampus-kampus disertai dengan diskusi bersama pakar. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman sejarah karena tidak mungkin untuk menutup-nutupi sejarah hubungan di antara dua negara ini. Asvi berpendapat mungkin pemerintah masih bingung untuk menyebut peristiwa tersebut sebagai integrasi atau invasi. Sejarah Timor-Timur ini memang sayang kalau tidak diajarkan kepada generasi muda kita, namun jika diajarkan bagaimana caranya, tampaknya masih menjadi pertanyaan yang bergelayut. Kenyataannya, di Indonesia, sejarah Timor-Timur tidak lagi diajarkan di sekolah karena sejak tahun 2006 petugas kurikulum di Departemen Pendidikan Nasional ”kelupaan” memasukkannya dalam kurikulum. (Lidya Christin Sinaga)