Tinjauan Buku: Negara dan Bandit Demokrasi Dari Demokrasi Indonesia Hingga Kebangkitan Cina PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Muhamad Haripin   
Selasa, 08 Maret 2011 11:39

Judul Buku: Negara dan Bandit Demokrasi 
Penulis: I. Wibowo
Tebal: xii + 132 hlm
Penerbit: Kompas, Jakarta, 2011

Negara dan Bandit Demokrasi adalah buku ‘perpisahan’ dari I. Wibowo kepada keluarga, kolega, dan para muridnya. I. Wibowo –yang lebih familiar dipanggil Romo Bowo- meninggal dunia pada tanggal 7 November 2010, atau tiga bulan sebelum buku ini terbit.

Ketika masih hidup, I. Wibowo adalah ketua Pusat Studi Cina, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI) dan pengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UI. Beliau dikenal sebagai ahli ekonomi-politik Cina. Karya Romo Bowo yang telah diterbitkan diantaranya Negara & Masyarakat. Berkaca dari Pengalaman RRC (Gramedia), Belajar dari Cina (Kompas Gramedia), dan Neoliberalisme (Cindelaras) – menjadi editor bersama Francis Wahono.

Negara dan Bandit Demokrasi adalah buku yang berisi kumpulan artikel opini Romo Bowo di media massa. Topik pembahasan yang disuguhkan meliputi persoalan demokrasi di Indonesia, globalisasi, etnik Tionghoa pasca Orde Baru, dan kebangkitan Cina.

Satu bagian yang menarik dan penting dalam buku ini adalah rangkaian artikel tentang polemik relevansi demokrasi di Indonesia yang diinisiasi oleh Romo Bowo di harian Kompas. Dalam artikel berjudul “Demokrasi untuk Indonesia?”, Romo berpendapat bahwa kita seharusnya kritis dan tidak terlampau yakin terhadap demokrasi. Studi Olson (2000), Kaplan (2000), Hertz (2002), dan Chua (2003) memberi peringatan kepada kita semua bahwa demokrasi mengandung ekses negatif yang tidak dapat diremehkan begitu saja. Olson melihat bahwa pengalaman di Rusia pasca-Uni Soviet menunjukkan bahwa demokrasi (baca: sistem politik terbuka) telah melahirkan para roving bandits (bandit berkeliaran) dan stationary bandits (bandit menetap) yang menggerogoti kekayaan negara. Sementara itu, Hertz mencermati bahwa politik demokrasi tidak lebih daripada pembukaan kanal investasi bagi kaum pemodal global untuk mengeksploitasi sumber daya alam di negara dunia ketiga. Poin inilah yang disoroti oleh Romo Bowo dan kemudian mendapat respon hangat dari Franz Magnis-Suseno (“Demokrasi untuk Indonesia!”), Riza Sihbudi (“Demokrasi atau Penegakan Hukum?”), Budiman Sujatmiko (“Beri Kesempatan Demokrasi Bernapas”), serta Abd. Rohim Ghazali (“Mengapa Harus Demokrasi?”).

Romo Magnis dan Budiman Sujatmiko, misalnya, mengkritisi satu per satu literatur yang disuguhkan oleh Romo Bowo, dan kemudian mempertanyakan konteksnya bagi Indonesia. Tesis Olson bahwa pemilu dapat memunculkan partai berbasis agama yang radikal serta intoleran, menurut Romo Magnis, tidak dapat direfleksikan secara langsung kepada Indonesia. Partai berbasis agama di Indonesia bukanlah keutuhan yang manunggal bagi penyaluran aspirasi umat. Jika mereka kalah, berarti mereka tidak dipercaya rakyat dan mereka tidak berhak melakukan sabotase terhadap proses politik yang sedang berlangsung. Sementara itu, Budiman lebih mengkhawatirkan kondisi jika partai berbasis agama dengan intepretasi radikal, atau bahkan partai serta gerakan clerico-fascist, hadir di tengah kondisi vakum demokrasi. Demokrasi justru mesti hadir untuk menghindari kondisi semacam itu.

Selanjutnya dalam artikel lain, Romo Bowo menulis bahwa etnis Tionghoa di Indonesia mesti berhenti meratap serta bersedih mengingat tragedi ‘98. Kondisi kontemporer membuka kesempatan lebar bagi etnis Tionghoa untuk berkarya dan membuktikan diri, meski sulit untuk dipungkiri bahwa masih ada tantangan dari sana-sini, khususnya stereotip buruk tentang orang Tionghoa yang belum hilang sepenuhnya dari benak kolektif dan kemungkinan orang Tionghoa kembali menjadi ‘kambing hitam’ dalam pergolakan sosial-politik di masa mendatang.

Artikel lain membahas tentang pengalaman pembangunan Cina yang spektakuler selama 30 tahun terakhir. Selain pencapaian di bidang ekonomi, Cina pun kini menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam bidang olahraga (juara umum Olimpiade 2008) dan industri hiburan (‘invasi’ film-film kungfu Mandarin). Namun tak dikira bahwa kemajuan tersebut ternyata terinspirasi oleh Amerika Serikat yang notabene negara demokratis-kapitalis, sedangkan Cina sendiri sampai sekarang masih setia memeluk ideologi komunis. Dalam artikelnya, Romo Wibowo pun mengabarkan pelajaran penting yang bisa dipetik Indonesia dari kebangkitan Cina, yaitu pentingnya memiliki model pembangunan yang sesuai karakteristik bangsa dan fleksibel terhadap perubahan.

Negara dan Bandit Demokrasi perlu untuk dibaca oleh kalangan peneliti, akademisi, mahasiswa, pengambil kebijakan, dan publik secara umum. Buku ini membicarakan substansi penting mengenai kehidupan bernegara sekaligus bermasyarakat di Indonesia. Nilai tambah lain adalah artikel-artikel di dalamnya ditulis dengan gaya populer-ilmiah sehingga pembaca akan mudah memahami substansi tiap topik yang dibahas. (Muhamad Haripin)