Login



mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday32
mod_vvisit_counterYesterday65
mod_vvisit_counterThis week212
mod_vvisit_counterLast week446
mod_vvisit_counterThis month593
mod_vvisit_counterLast month1817
mod_vvisit_counterAll days7569
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
Call for Paper

Call for Paper (1)

Redaksi Penerbitan P2P LIPI mengundang Para Peneliti, Akademisi, Praktisi, mahasiswa untuk menyumbangkan naskah tulisan akademis yang bertemakan “Good Governance dan Korupsi” untuk diterbitkan dalam Jurnal PenelitianPolitik LIPI Tahun 2010 seputar masalah mengenai :

  1. Reformasi Birokrasi dan Good Governance
  2. Review Korupsi di Indonesia
  3. Pemetaan Problematika Good Governance Daerah-Daerah di Indonesia
  4. Pemekaran Daerah dan Korupsi (Politik Anggaran)
  5. Bantuan-Bantuan Negara-Negara Donor dan Korupsi
  6. Politik Korupsi Birokrasi di Indonesia (Pelayanan Publik)
  7. Tataran Kewenangan dan Good Governance
  8. serta hal-hal lainnya yang berkaitan dengan permasalahan seputar Good Governance dan Korupsi.
Selanjutnya...
 
Kudeta? Tidaklah
”Hari ini aku lihat kembali wajah-wajah halus yang keras… Dan bercita-cita, menggulingkan tiran; Aku mengenali mereka; Yang tanpa tentara; Mau berperang melawan diktator… Dan yang tanpa uang, mau m’berantas korupsi; Kawan-kawan; kuberikan padamu cintaku; Dan maukah kau berjabat tangan… Selalu dalam hidup ini? (Soe Hok Gie, ”Pesan”, Sinar Harapan, 18 Agustus 1973, dikutip dalam buku Sekali Lagi, kumpulan tulisan tentang Soe Hok Gie, hal 104, Desember 2009).

Pesan Soe Hok Gie 36 tahun lalu itu mungkin masih relevan hingga saat ini. Gie, begitu panggilan akrabnya, adalah aktivis mahasiswa yang tidak silau akan kekuasaan. Gie bukan saja aktivis yang ikut menggulingkan Presiden Soekarno, tetapi sebagai dosen sejarah di Fakultas Sastra UI juga ikut dalam gerakan memperjuangkan amanat penderitaan rakyat saat Presiden Soeharto berkuasa. 
Selanjutnya...
 
Lakon Baru: ”Centurygate”

GUYONAN politik yang tersebar melalui pesan singkat dari ponsel ke ponsel dalam sebulan terakhir ini tampaknya mendekati kebenaran. 

Isi guyonan politik itu, saya sadur sedikit agar kalimatnya tak terlalu menyeramkan, “Program 100 hari pemerintahan SBY-Boediono: 30 hari pertama menyelesaikan kasus cicak versus buaya. 30 hari kedua sibuk soal skandal Bank Century atau ‘Centurygate’. 30 hari ketiga soal kasus Anggodo Widjaja. 10 hari terakhir menghadapi DPR dan MPR.” Lakon ”cicak vs buaya” belum seluruhnya rampung. 

Selanjutnya...
 
Identity, minority, and freedom of expression
Indonesia has been able to transform itself into a very democratic country after the fall of Soeharto in 1998. But are we really democratic? Reality shows it is not easy as that, especially for those in the minority. 

Being a non-religious person among religious ones is a big problem. Being ethnically different. Being the only girl among men. Being the leftist among the rightists. Being the gay or lesbian among the straights. Even not wearing the same attire as your fellow countrymen. 

Selanjutnya...
 
Komitmen, Bukan Hanya Pidato

Beberapa kali rilis Transparansi Internasional Indonesia, bahwa institusi kepolisian, kejaksaan, dan partai politik sebagai lembaga terkorup, hari-hari ini kian terbukti. Kecuali Partai Hati Nurani Rakyat, tak satu pun parpol lain yang mengecam kriminalisasi sistematis terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi.

Mengapa dan ke mana arah kasus ini bergulir?

Selanjutnya...
 
Arah Politik Golkar Pascapilpres

Metode penghitungan cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei mengindikasikan kekalahan telak pasangan Jusuf Kalla-Wiranto. Pasangan yang diusung Partai Golkar dan Partai Hanura ini tak hanya kalah dari SBY-Boediono, melainkan juga dari Mega-Prabowo. Mengapa dan ke mana arah politik Partai Golkar pasca-Pilpres 2009.

Seperti dipublikasikan berbagai media, atas dasar penghitungan cepat tersebut pasangan JK-Wiranto hanya memperoleh sekitar 12 persen suara, atau hanya seperempat suara SBY-Boediono (60 persen), dan tak sampai separoh perolehan suara Mega-Prabowo (26 persen). Padahal pada pemilu legislatif, gabungan perolehan suara Partai Golkar (14,6 persen) dan Hanura (3,6) lebih dari 18 persen.

Selanjutnya...
 
Problematika Keamanan di Aceh Pasca MoU Helsinki dan Prospeknya di Masa Depan
Ditandatanganinya MoU (Memorandum of Understanding) Helsinki, 15 Agustus 2005, di kota Helsinki, Finlandia, merupakan sebuah babak baru dalam upaya pe…
Selanjutnya...
 
Pesimisme Satu Dekade Reformasi: Wawancara dengan Mochtar Pabottinggi
Tahun 2008 merupakan momen yang tepat untuk menengok kembali perjalanan reformasi di Indonesia yang telah berjalan sejak tahun 1998. Reformasi merupak…
Selanjutnya...
 
Disaster Management: Perspektif Politik dan Kebijakan
Berbicara Indonesia kini tidak dapat melepaskan diri dari fenomena bencana alam yang kerap melanda, terutama pasca peristiwa Tsunami Aceh di penghujun…
Selanjutnya...